Teruntuk suamiku
Teruntuk suamiku, yang dulunya ketika sebelum menikah sering mengajakku berdiskusi, sering mengajakku jalan jalan meskipun cuma beli makan, yang sering mengajakku berangan-angan tentang masa depan, terimakasih sudah memilihku menjadi istrimu. Meskipun ternyata menjadi istrimu tidaklah mudah. Meskipun dengan menjadi istrimu, berarti aku juga harus siap kehilangan teman2ku, yang mungkin tak pernah ada baiknya di matamu. Ketika aku berteman, engkau akan menganggap mereka sebagai ancaman, engkau utarakan apa yang tak kau sukai tentang mereka, yang pada akhirnya aku merasa sungkan dan tak lagi berteman atau bertemu dengan mereka. Meskipun dengan menjadi istrimu, artinya aku juga harus siap dengan segala perubahan sikapmu. Kamu yang dulunya lembut, kini berubah menjadi sosok yang membuatku merasa sedih dan tertekan. Setiap pulang kerumah, selalu ada yang salah.. Aku tiduran, salah.. Aku tak bersih-bersih, salah ... Aku tak masak, salah ... Padahal sebelum kau datang, anak kita rewel tak mau ditaruh .. padahal sebelum kau datang, anak kita sedang ingin dipeluk dan tidak mau ditinggal.. Aku hanya lelah .. aku hanya ingin istirahat sebentar saja bersama anak kita yang baru saja terlelap ketika kamu datang.. Kamu yang dulunya selalu memanggilku dengan sayang, kini berubah menjadi teriakan. Kamu yang dulunya selalu memperhatikan aku, kini berubah menjadi sosok yang entah seperti apa lagi aku harus mendeskripsikannya. Dulu aku bermain Twitter, tapi katamu, Twitter banyak hal negatifnya daripada hal positifnya, maka aku tutup akun Twitterku, dan kemarin kamu bertanya "kenapa nggak main Twitter? Sayang ya? Di Eman Eman ya Twitternya?" Yak.. salah lagi. Kamu yang dulunya selalu menggandengku, atau mempersilakanku berjalan duluan supaya kamu bisa menjagaku dari belakang, kini tak ada lagi. Yang ada kamu malah jalan sendirian, meninggalkan aku di belakang yang sedang kerepotan menggendong bayi kecil kita. Pernah sekali ketika ke kondangan, kebetulan jalan menuju gedung acara terjal, banyak batu, dan becek. Kamu meninggalkan aku berjalan duluan, sampai akhirnya aku bersama bayi kita terjatuh karena aku tak tahu ada tangga disamping kakiku dan aku tak menginjaknya dengan benar, tapi Alhamdulillah.. Allah masih melindungi aku dan anak kita, berkat gendongan jarik Mshape yang sudah ku pelajari, anak kita aman dalam dekapanku, tak terluka sedikitpun, kecuali hanya ada bekas merah secuil di kakinya. Bukan darah, hanya merah saja.. dan orang-orang hanya melihatku dengan nanar, aku bangun sendiri dan aku jalan seperti tak ada yg terjadi sebelumnya, kau tak sadar... Sampai aku memanggilmu dan kamu tidak melakukan apapun selain malah menyuruhku "udah, tunggu di mobil aja". Iya ... Mobil ayahku yang kita pinjam ... Demi agar anak kita tak kepanasan katanya.. Kebetulan lagi malam harinya anak kita rewel, makin gencar kamu memarahiku. Mengatai aku tak becus menggendong anak, pasti ada yang sakit, makanya dia rewel. Katamu pada bayi kita, "Kenapa nak, mana yang sakit nak, ibumu teledor ya nak.." padahal mungkin ia sedang kolik, atau tak nyaman di tempat baru karena kamu yang memaksaku pindah buru buru setelah kondangan selesai padahal sudah malam. mungkin bayi kita hanya ingin dipeluk, atau hal lain... Aku sudah pastikan dengan baik, ia tak terluka tadi ... Tapi tak ada secuilpun kamu bertanya "are you okay?" Oh iya .. aku lupa sayang, aku tak penting lagi bagimu sejak ada anak kita kan :) Esoknya kamu bercerita pada orang orang mengenai anak kita yang rewel selepas kondangan, dan disitu mereka mengecamku, mengataiku "gaya ngajak anak jalan padahal masih bayi, gak mikirin kesehatan anak, sok sokan banget". Iya ... Tak apa.. salahkan saja aku .. biasanya juga selalu seperti itu kan :) kau tak pernah salah, kau selalu benar, dan gengsi meminta maaf apalagi mengakui kesalahanmu bagaimanapun bentuknya. Atau seperti kemarin malam, ketika aku kau bilang pemalas hanya karena ketika kau pulang yang kau lihat adalah aku sedang tiduran, kemudian aku bangun mencuci baju dan menjemurnya malam itu juga, tapi ternyata bayi kita rewel karena tak mau ditaruh. Kamu ngotot bilang dia lapar, kamu teriak teriak dari dalam kamar memanggil namaku seperti memanggil pembantu. Sungguh nyaring dan penuh amarah ... Saat aku masuk kedalam kamar, posisimu sedang duduk bersila, memangku bayi kita yang sedang menangis kencang, yang katamu lapar itu, sambil bilang "kalau gakmau nyusuinn bilang! Biar kubelikan susu formula sekarang! Daritadi nangis dia lapar malah kamu gak datang datang!" Sayangku . . Bukankah kamu punya kaki untuk menghampiriku ke depan rumah? Bukankah kamu bisa memanggilku dari jarak dekat dengan pelan, dibanding harus berteriak teriak seperti kesetanan di malam hari :) Bayinya sudah kugendong, ia tak mau minum asi karena memang aku tau dia kenyang, dia hanya mengantuk sayang.. dia hanya ingin digendong sambil berdiri dengan sesekali di puk puk.. mudah sebenarnya, tapi kadang kalimat sederhana mu yang seperti itu yang membuatku sadar .. bahwa memang menyatukan dua insan dalam satu kapal memang tak mudah.. Jangankan susu formula sayang, mengeluarkan uang untuk check up anak kita selepas lahiran tanpa BPJS senilai 300rb pun kamu merasa sayang, merasa aku tak bisa memanfaatkan yang gratis dengan baik. "Kalau ada yg gratis kenapa harus pilih yang bayar? Mana jauh juga, capek aku tuh!" Masyaallah.. lembutnya tutur kata suamiku .. Setiap bayi kita menangis semakin kencang, maka akan semakin keras pula kamu akan memarahiku, menyindirku, atau apapun itu, untuk menunjukkan bahwa aku tak becus mengurus anak kita, aku hanya leha-leha dirumah, hanya menghabiskan uang, dan tak melakukan apapun selain itu. Terimakasih ya sayang, sudah mau menyuapiku didepan umum, didepan orang banyak, merangkulku didepan saudara saudaramu, walau hanya 5 menit.. meskipun ketika di dalam rumah kau berlaku acuh padaku dan selalu memandangku rendah, tapi setidaknya diluar rumah, didepan orang banyak, aku bisa sedikit mengobati rasa rinduku tentang kamu yang dulu.. Sayangku.. Terimakasih sudah memilihku menjadi istrimu.. Mengejar surga memang tak semudah itu jalannya.. Tak apa, Setidaknya aku harus berterimakasih, karena berkatmu, kini aku punya jagoan kecil yang bisa aku jadikan sahabat satu satunya dalam hidupku yang tidak kamu curigai ... Terimakasih, berkatmu, aku punya semangat baru dalam menjalani hidup. Terimakasih suamiku, semoga Allah membukakan hidayah dan mengetuk hatimu untuk berubah kembali seperti dulu lagi.. karena tak ada yang bisa merubahmu kecuali Allah, Maka tugasku sekarang hanyalah berbuat sebaik mungkin meskipun tak pernah engkau hargai dan selalu salah di matamu. Tugasku hanya menjalankan kewajibanku sebagai istrimu, Perihal selanjutnya, biarlah aku serahkan semua pada Allah. Aku tak akan berharap banyak padamu lagi, Akan ku serahkan semua harapan dan anganku pada Allah.. Aku tak ingin menjadi beban untuk perjalanan karirmu itu, maka aku memaafkan mu.. meskipun.. Kamu tak pernah meminta maaf.

