HIDUP AKAN LEBIH MUDAH, JIKA KAMU GOOD LOOKING.
Bun, Pernah gak sih ngerasakan dan membuktikan BEAUTY PRIVILEGE? Apakah bunda mengajarkan pada anak2 Bunda bahwa kecantikan fisik itu penting?? Apakah Bunda percaya bahwa dengan kecantikan, 50% masalah hidup sudah teratasi? Mungkin saya rada sombong, karena saya bisa mengatakan, saya pernah merasakan saat memiliki dan tidak memilikinya. Dan saya bisa mengonfirmasi bawah YA, Kecantikan membuat hidupmu lebih mudah. Saya gak bilang gak good looking bakal hidup susah, tapi untuk mencapai kemudahan itu, orang gak good looking harus bekerja lebih keras ketimbang yang good looking. Saya akui, waktu kecil saya gadis kecil yang cantik, saya sering mendengar ucapan itu dari orang-orang, Kulit saya putih banget, rambut saya hitam, tebal dan panjang, mata saya coklat dan Indah, pipi saya chubby imut, alis saya berbentuk seperti diukir, sekali lagi bukan saya yang kepedean, tapi begitu kata orang-orang, dan saya mengakuinya saat melihat foto2 masa kecil saya. Dari SD sampai SMP saya merasakan beauty privilege itu SANGAT NYATA. saya sering mendengar pujian dari orang dewasa dan teman2 cewek, saya jadi banyak teman, yang cowok seumuran bahkan yang dewasa banyak yang naksir. Kalau pulang kampung, keluarga selalu antusias menyambut kedatangan saya, mereka memuja muji saya karena tumbuh menjadi gadis yang semakin cantik. Entah kenapa, itu sangat berpengaruh pada nilai akademis saya juga, mungkin karena orang2 selalu optimis dengan saya, jadi saya juga Percaya Diri dan giat belajar sebagai pembuktian selain cantik, saya juga pintar. Karena cukup populer di sekolah, saya juga sering ditunjuk untuk event ini itu mewakili kelas dan sekolah. Saya bukan termasuk orang yang nyaman dipuji, malah merasa terbebani, tapi dengan pujian itu saya menjadi lebih semangat untuk mengejar prestasi, krn saya tipe org yg makin PD ketika orng juga percaya sama kemampuan saya. Tapi semakin dewasa kecantikan anak kecil sampai remaja tanggung itu mulai memudar. Dari mulai SMA, wajah saya ditumbuhi dengan jerawat yang sangat banyak, kulit wajah saya gak seputih dulu lagi karena terpapar sinar matahari dan polusi, badan saya juga mulai menggemuk. Di saat seperti itu, saya gak pintar merawat diri, dan malah memutuskan untuk berhijab, menutupi rambut indah saya, saat itu saya masih pake hijab asal2an bahkan kata tante saya jadi kayak ibu2, apalagi badan saya pendek dan berhenti tumbuh. Sebaliknya dengan saya, teman2 saya yang dulunya gak punya beauty privilege, mulai pintar merawat diri mereka, kulit mereka rata2 mulai cerah, rambut mereka stylenya cantik2, dan badan mereka juga tinggi2, alhasil, dibandingkan saya, mereka tumbuh menjadi gadis2 yang cantik. Adik saya adalah contoh nyata kebalikan dari saya, dia dulu kurus, ceking, hitam, bahkan kalau sama saya dikira teman2nya bukan saudara kandung, dulu dia sering dibully, karena paling kecil sendiri, tapi mulai dari SMA, dia sudah pintar merawat diri dan PD, dia jadi cantik dan kinclong banget sekarang, banyak yang naksir, banyak teman pula. Dari situ saya sadar, beauty privilege itu gak selalu alami dari lahir, justru jaman sekarang semuanya diusahakan, yang cantik dari lahir akan kalah dengan mereka yang pintar merawat diri. Saya benar2 merasakan perbedaan itu, bagaimana dunia memperlakukan saya sangat berbeda jauh saat saya cantik dan sudah tidak lagi, cowok yang naksir saya makin sedikit bahkan hampir gak ada, keluarga di kampung jadi biasa aja melihat saya, gak ada antusiasnya lagi, bahkan sering membully penampilan saya. Dan sebaliknya, itu juga berdampak ke prestasi dan nilai akademis saya, mungkin saya tipe orang yang bertindak sesuai ekspektasi orang2, karena fisik, saya jadi disepelekan, dan itu membuat kepercayaan diri saya jadi ikut anjlok juga. Saya jadi belajar seadanya, yang penting gak remedial, gak usah punya nilai bagus2 amat, toh saya gak penting ini. Itu juga ngaruh ke pergaulan saya, saya jadi minderan dan gak PD memperluas pergaulan, dan hanya mau bergaul dengan yang saya anggap setype saya. Hal itu terus berlanjut sampai saya kuliah dan dewasa, saya jadi tumbuh menjadi perempuan yang biasa2 saja dalam segala hal. Makin dewasa, idealisme saya makin tumbuh, saya jadi semakin gak mementingkan penampilan, dan walaupun saya pengen tampil lebih baik, saya bahkan gak tau caranya. Mungkin kalau saya berpenampilan menarik, saya akan mudah dapat pekerjaan kantoran dan dapat laki2 kaya, tapi karena penampilan saya begini, saya cuma bisa diterima jadi guru dan pengajar, mungkin bisa saja saya dapat laki2 yang lebih kaya, kalau saya aktif mendekati, tapi karena saya merasa saya perempuan yang biasa2 saja, jadi saya juga bisanya cuma menjangkau laki2 yang biasa2 saja. Begitulah pengaruh BEAUTY PRIVILEGE yang saya rasakan dan sangat berpengaruh pada hidup dan masa depan saya, terlepas dari itu, semuanya sudah digariskan Allah, tapi jika jadi orang seperti saya, yang bisa merasakan perbedaannya, pasti pengen punya anak yang good looking, agar dunia yang tidak adil ini bisa menerimanya dengan baik, dan hidupnya dipermudah, karena saya sudah membuktikan, 50% persoalan hidup akan selesai dengan beauty previlege. Bukan saya tidak menerima diri saya apa adanya, dari dulu saya sudah menerima saya apa adanya walaupun jatuhnya jadi lebih banyak tau diri, tapi sebagai seorang ibu dari anak perempuan, saya jadi lebih realistis, anak saya gak boleh seperti saya. Dia harus merawat dirinya, bukan untuk orang lain, tapi untuk dirinya sendiri




bismillah